Sekelumit Pengalaman Pada Masa Revolusi Agustus 1945-1949 Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail

Oleh: F.C. Fanggidaej:
(Mengenang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 50 tahun lalu)

Pada 17 Agustus 1995 ini kita peringati ulang tahun ke-50 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dengan Republik Indonesia yang didirikan sebagai hasil Proklamasi 17 Agustus 1945 itu rakyat Indonesia membentuk negaranya yang merdeka, menegaskan identitasnya sebagai bangsa yang bebas dari kolonialisme.

Tujuan dan cita-cita Republik Indonesia Proklamasi adalah untuk mengangkat, terutama mayoritas rakyat yang sengsara dari lembah kemiskinan ke kehidupan yang lebih baik dan layak, punya rumah dan cukup makan, di mana semua orang dihargai dan dihormati. Untuk memperjuangkan semuanya itu orang harus ada hak-hak politik dan demokrasi. Di Indonesia Orde Baru hak untuk mengorganisasi diri dengan bebas, untuk mengeluarkan pendapat dan kritik dengan bebas secara lisan dan tertulis, tak mungkin direalisasi karena sistem kekuasaan yang represif yang telah dibangun dengan intensif selama 30 tahun terakhir ini.

Pada awal Orde Baru satu juta orang Indonesia tak bersalah dibunuh dan ratusan ribu lainnya dilempar ke dalam penjara dan kamp konsentrasi dalam satu tragedi nasional yang dampaknya sampai hari ini belum teratasi. Dalam keadaan demikian perlukah Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ke-50 diperingati? Dengan pertanyaan ini di hati dan di kepala, saya menukik ke masa lampau, 50 tahun yang lalu ketika saya sebagai pemuda berumur duapuluhan, dengan antusiasme yang menyala-nyala dan semangat pantang mundur menerjunkan diri ke dalam kancah gejolak dan pergolakan revolusi di Surabaya.

Ketika itu, tidak ada kata yang lebih indah selain kata MERDEKA. Tidak ada lagu yang lebih gagah, selain lagu kebangsaan INDONESIA RAYA. Tidak ada warna yang lebih memikat daripada dwiwarna SANG MERAH-PUTIH yang berkibaran di mana-mana. Ketika itu, kami pemuda Surabaya menyerbu kantor-kantor, perusahaan-perusahaan dan bank-bank Jepang, dan meminta pegawai-pegawai Indonesia untuk sementara mengambil oper semua pengurusan perusahaan. Orang Jepang tidak berkutik. Tunduk dan menurut. Di pintu-pintu gedung-gedung itu kami tempelkan dengan rasa bangga pelakat-pelakat tercetak huruf-huruf hitam MILIK REPUBLIK INDONESIA.

Saya ingat keadaan di Surabaya pada bulan-bulan September, Oktober, November 1945. Amat gawat. Republik yang masih bayi itu sudah harus mengalami serangan dari berbagai jurusan. Mula-mula dari tentara pendudukan Jepang yang sesudah kapitulasi mendapatkan perintah dari Sekutu untuk terus memegang pemerintahan di Indonesia sampai pendaratan pasukan-pasukan Sekutu.

Pertempuran-pertempuran terjadi antara pemuda dengan serdadu-serdadu Jepang di Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang dan kota-kota lain. Bulan September, Oktober dan November mendaratlah pasukan-pasukan Inggris, Australia dan Belanda. Berita-berita tentang pembunuhan, penculikan, penembakan dan kejahatan lain terhadap penduduk Jakarta - tua, muda, anak-anak, lelaki dan perempuan - oleh orang-orang Belanda dan Nica yang mengebut dengan jip mereka di jalan-jalan dan kampung-kampung Jakarta, menimbulkan kemarahan besar di kalangan pemuda Surabaya. Pada tanggal 19 September terjadi insiden bendera di Hotel Oranye, Surabaya. Sebelumnya sudah ada banyak insiden besar dan kecil antara pemuda dan orang-orang Belanda bekas tawanan Jepang yang sudah bebas. Beberapa pemuda Surabaya menaiki menara Hotel Oranye di mana oleh seorang Belanda dipasang bendera Belanda merah-putih-biru. Pemuda-pemuda itu kemudian menyobekkan bagian biru dari bendera Belanda itu. Bentrokan senjata pun terjadi ....

Pada akhir bulan Oktober 1945 meletus apa yang oleh Bung Karno disebut dalam interviewnya dengan wartawati Amerika Cindy Adams, sebagai "the Battle of Surabaya, the first battle of the Republic". Pertempuran Surabaya, pertempuran pertama Republik dengan tentara Inggris. Inggris menuntut agar rakyat Surabaya meletakkan senjata dan menyerah tanpa syarat dalam 24 jam. Rakyat Surabaya marah dan mengamuk melawan dalam pertempuran untuk merebut pelabuhan yang diduduki Inggris. Begitu banyak korban jatuh di pihak tentara Inggris, sehingga Bung Karno yang ketika itu masih berada di Jakarta, tengah malam ditilpon dari Surabaya dan disampaikan permintaan mendesak dari komandan pasukan Inggris di Surabaya untuk segera datang menengahi.

Pertempuran dapat dihentikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta yang sehari semalam mengelilingi kota Surabaya untuk menenangkan pemuda dan rakyat. Pertempuran berhenti pada tanggal 3 November. Tetapi beberapa hari kemudian komandan kekuatan-kekuatan Inggris Jenderal Mallaby dibunuh. Dalam keadaan yang sangat gawat demikian, delegasi pemuda Jawa Timur dan Surabaya, termasuk saya, berangkat pada tanggal 6 November 1945 ke Yogyakarta untuk menghadiri Kongres Pemuda Indonesia dalam alam merdeka. Kongres ini yang dihadiri oleh 629 utusan yang datang dari Sumatra (ketika itu masih disebut Andalas), Jawa, Madura, Nusa Tenggara Timur (ketika itu disebut Sunda Kecil), Kalimantan, Sulawesi. Mereka mewakili 23 organisasi daerah, jawatan, organisasi pelajar, pemuda lokal, buruh dan agama. Badan-badan perjuangan berbagai sukubangsa di Jawa, seperti Pemuda Indonesia Maluku (PIM) dan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) mengirimkan utusan-utusan mereka, kebanyakan dengan berpakaian tradisional.

Kota Yogya mendidih dari semangat dan tekad juang pemuda. Pekik dan salam MERDEKA memenuhi ruang udara kota. Jalan-jalan dikuasai pemuda: kebanyakan berambut gondrong, mereka bersenjatakan pestol, senapang, brengun sampai kelewang panjang Jepang, dan sudah tentu bambu-runcing. Kepala mereka mereka ikat dengan kain merah .... Yah, semangat juang, rasa romantisme dan kecenderungan kaum muda untuk berlagak dan bergaya bercampur dengan sikap serius dan tenang dengan tekad pantang mundur yang terpancar dari mata dan wajah mereka --- itulah gambaran pemuda Indonesia Revolusi Agustus 1945. Di dalam gedung Kongres tampak pemuda-pemuda yang baru dibebaskan atau membebaskan diri dari penjara Kenpeitai Jepang Sukamiskin di Bandung, antara lain: Sudisman, Tjugito, Sukarno. Juga Sumarsono, Ruslan Wijayasastra, Soepeno dan Chaerul Saleh. Sambutan Amir Syarifuddin menggambarkan ciri khas suasana politik pada awal Revolusi. Kata Bung Amir: "Hai Pemuda, jika kamu memegang bedil di tangan kananmu, haruslah kamu memegang palu di tangan kirimu. Dan jika kamu memegang pedang di tangan kananmu, peganglah arit di tangan kirimu!"

Di tengah-tengah berlangsungnya Kongres, sebuah utusan pemuda dikirim oleh Kongres ke Surabaya untuk menyampaikan kepada Gubernur Surabaya, Suryo, sikap Kongres Pemuda menolak ultimatum Tentara Pendudukan Inggris setelah Mallaby terbunuh. Pertempuran Surabaya meletus kembali. Utusan pemuda itu kembali ke Kongres di Yogyakarta, melaporkan kebiadaban Tentara Pendudukan Inggris.

Kota Surabaya ditembak dan dibom dari udara, laut dan darat, menimbulkan korban besar di antara penduduk, terutama anak-anak dan wanita. Saat itu seluruh Kongres bergejolak, mendidih. Teriakan-teriakan "Angkat Senjata! Berontak! Balas!" "Merdeka atau Mati!" "Sekali Merdeka Tetap Merdeka!" serentak keluar dari ratusan mulut ...Ratusan tangan mengepal diangkat. Secara spontan lagu kebangsaan nasional INDONESIA RAYA berkumandang. Sebuah Resolusi Protes Keras yang ditujukan kepada pendapat umum di seluruh dunia diputuskan dan dikirimkan kepada PBB, WFDY (Federasi Pemuda Demokratik Sedunia) dan IUS (International Union of Students). Kongres berakhir dengan didirikannya Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BKPRI) yang mempunyai dua dewan: satu,

Dewan Perjuangan, dan dua, Dewan Pembangunan. Di dalam Kongres lahir juga PESINDO (Pemuda Sosialis Indonesia) yang merupakan fusi dari 7 organisasi pemuda yang bercita-cita sosialisme. PESINDO mempunyai kekuatan bersenjata yang setanding dengan kekuatan TRI ketika itu. Memiliki kekuatan darat dan artileri, "Pesindo Laut" di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, begitu juga kesatuan putri yang terdiri dari pasukan tempur, kesatuan pengintai dan Palang Merah.

Bahwa Kongres Pemuda Indonesia I yang diselenggarakan di suatu Republik yang baru berumur beberapa bulan, dikepung oleh musuh dan sama sekali tidak mempunyai atribut apapun sebagai negara -- bisa mencapai hasil-hasil sebesar itu, menunjukkan betapa mendalam kepedulian generasi muda Revolusi Agustus itu pada nasib negeri, rakyat dan bangsanya dan betapa tinggi kemampuan berkorbannya.

Tidak bisa tidak perjuangan untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan nasional yang begitu sengit, mempunyai dampak kepada pertumbuhan mental dan moral generasi muda, khususnya pada perempuan muda. Saya ingin menyebut suatu pengalaman yang bagi saya mempunyai arti yang khusus, yaitu berkumpulnya saya ketika itu dengan sejumlah pemudi intelektual. Mereka sebagian besar adalah pelajar sekolah menengah. Mereka berasal dari keluarga intelektual yang berada. Mereka, termasuk saya, hanya samar-samar mengerti makna kata MERDEKA, apalagi secara politik. Kami telah berkumpul bersama sejak Surabya, terus di Yogya, Madiun dan Solo.

Setelah Kongres berakhir, kami para pemudi yang berasal dari Surabaya dan beberapa kota lainnya di Jawa Timur, tidak kembali ke rumahnya masing-masing. Ada dua sebab: pertama, di Surabaya telah meletus perang melawan Inggris dan Belanda; kedua, kami merasa bahwa kami juga berkewajiban membela tanahair yang baru kita proklamasikan kemerdekaannya. Tidak ada rasa sesal atau rasa takut meninggalkan rumah, yang selamanya pernah menjadi tempat berlindung yang aman dan nyaman di sisi orangtua, kakak dan adik. Kancah kehidupan dan perjuangan baru itulah jadi "rumah" kami, belasan pemudi, yang paling muda berumur 17 tahun. Kami belajar berorganisasi dan berasrama dengan disiplinnya tersendiri. Kami belajar politik dan diskusi politik. Belajar memberikan penerangan kepada rakyat di pedesaan tentang arti kemerdekaan dan arti perjuangan untuk membela dan mengisi kemerdekaan itu. Di dalam sentuhan kita dengan rakyat yang paling miskin dan tertimpa kesengsaraan akibat penghisapan dan penindasan kejam Jepang, kami belajar arti kolonialisme dalam realitas. Membuat kami malu dan kikuk: kami, yang tidak pernah menderita lapar dan kekurangan, juga pada puncak krisis kekurangan makan pada zaman Jepang.

Sesudah revolusi, kami bertebar ke berbagai jurusan dan bidang: ada yang menjadi dokter, guru, aktivis gerakan wanita, wartawan, anggota parlemen, melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Wajar, bahwa dalam menempuh jalan hidup kami selanjutnya ada perbedaan menurut keyakinannya masing-masing.

Menjelang umur dua tahun Republik Indonesia, Belanda melancarkan perang kolonial pertama pada tanggal 21 Juli 1947. Sehari sebelumnya, pada tanggal 20 Juli 1947 BKPRI mengirim tiga orang utusan pemuda ke luar negeri dengan tugas memperkenalkan perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia, menggalang solidaritas dan mengerahkan bantuan materiil dan moril pemuda dan mahasiswa demokratik sedunia pada kesempatan World Youth Festival, Council Meeting WFDY dan Kongres IUS di Praha pada bulan Agustus 1947. Tiga orang utusan pemuda itu yalah Suripno, tokoh internasional dan aktivis mahasiswa dari Perhimpunan Indonesia (PI); Sugiono, wakil Sarekat Mahasiswa Indonesia (SMI), kemudian menjadi wakil mahasiswa di IUS, dan saya sendiri sebagai anggota PESINDO.

Tidak mudah melaksanakan keputusan BKPRI itu. Republik Indonesia yang menjelang umur dua tahun itu tidak mempunyai apa-apa. Mata uang tidak diakui oleh dunia internasional. Blokade Belanda ketat, Negara-negara besar semua memusuhi kita. Tidak ada paspor menurut norma-norma hubungan internasional. Satu-satunya surat resmi yang kami bawa adalah secarik kertas merang yang berwarna putih kotor yang bertuliskan sebagai pembukaan "To Whom It May Concern ..." dan setengah jam sebelum plane berangkat buru-buru dibubuhi tandatangan Bung Amir sebagai Menteri Penerangan di pangkalan penerbangan Maguwo, Yogya.

Plane pun, berikut penerbangnya, bukan milik Republik, tetapi milik India dan pilotnya orang India, sahabat karib, Patnaik. Kami berangkat dengan pakaian di tubuh saja dan satu stel ganti, koper sisanya kami berisi material foto, guntingan koran, brosur dan bahan-bahan lain untuk exposisi. Dari kami sungguh dibutuhkan inisiatip dan kemampuan inovatif, dan di atas semuanya itu, keberanian untuk dapat mengalahkan semua kendala. Kami berangkat ke India dulu, dengan menumpang pada delegasi pemerintah tingkat tinggi yang dipimpin oleh wakil presiden Hatta dan terdiri dari dr. Sudarsono, dubes pertama untuk India dengan stafnya dan mr. Zairin Zain yang bertugas membawa dan memperjuangkan masalah Indonesia ke PBB.

Di India kami diterima sebagai anggota Delegasi Bung Hatta dan ditempatkan di Constitution House, sebuah guesthouse bagi tamu-tamu VIP pemerintah India. Suripno berhasil memperoleh bantuan dari PM Jawaharlal Nehru, yang telah membiayai seluruh perjalanan Delegasi pemuda beserta seluruh kegiatannya di Eropa. Memang, negara-negara besar Barat memusuhi kita, tetapi kita juga punya sahabat di kalangan negeri-negeri Asia dan Afrika yang sudah merdeka, seperti India, Mesir, dan di Eropa, negeri sosialis Uni Sovyet. Tetapi yang menjadi sahabat terpenting adalah rakyat berbagai negeri, terutama kaum buruh, pemuda dan mahasiswa. Kita tidak boleh lupa solidaritas kaum buruh Australia dan Belanda. Kaum Komunis Belanda dan buruh Belanda adalah yang pertama-tama mengakui Proklamasi R.I. dan menyokong dengan kongkrit perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia. Nama PIET VAN STAVEREN merupakan simbol solidaritas internasional rakyat Belanda dengan perjuangan rakyat Indonesia melawan kolonialisme Belanda dan untuk kemerdekaan nasional. Di Praha kami berjumpa dengan rombongan pemuda, mahasiswa dan seniman dan buruh Indonesia, anggota-anggota PI dan RUPI dari negeri Belanda, sebanyak kira-kira 30 orang.

Adalah terutama rombongan dari negeri Belanda itu, yang selama Festival dan sesudahnya memperkenalkan kesenian Indonesia berbagai daerah, yang setiap pertunjukannya mendapat kunjungan ratusan orang muda. Semboyan "STOP THE WAR IN INDONESIA!" dari Suripno berkumandang di jalan-jalan Praha. Exposisi yang kami gelarkan selama sidang-sidang WFDY dan IUS dan berisi foto-foto tentang front pertempuran di Surabaya dan Bandung, foto-foto tentang wajah kota-kota dengan manusia dan suasana perjuangannya, guntingan-guntingan koran, majalah "Revolusioner" dan beberapa lukisan pelukis rakyat, mendapat perhatian besar: ruang exposisi sekaligus menjadi ruang penerangan dan diskusi dengan pengunjung muda dan tua berbagai negeri.

Selesai tugas di Praha, pembagian pekerjaan di antara kami bertiga membawa saya ke London, kemudian ke India pada akhir tahun 1947. Penugasan dikirim dengan kawat dari BKPRI lewat pak Bandrio, yang ketika itu menjabat High Commissioner RI untuk Inggris di London. Di India saya menjadi anggota International Preparatory Committee sebagai wakil BKPRI untuk ikut mempersiapkan South East Asian Youth and Student Conference yang bakal diselenggarakan pada bulan Februari tahun 1948 di Calcutta. Dalam IPP itu duduk juga wakil-wakil WFDY dan IUS: Carmel Brinkman (sekarang Carmel Budiardjo) dari Inggris, Jean Lautissier dari Perancis dan Rayko Tomovich dari Yugoslavia, begitu juga wakil All-India Students Federation yang akan menjadi tuanrumah, dan wakil dari pemuda dan mahasiswa Vietnam.

Adalah WFDY dan IUS yang menjadi pengambil prakarsa untuk Konferensi. Ide itu lahir di tengah-tengah situasi internasional sesudah Perang Dunia II. Bangsa-bangsa dari sejumlah besar negeri-negeri jajahan di Asia dan Afrika sedang melancarkan perang pembebasan nasional menentang usaha kembalinya bekas penguasa kolonial ke jajahan-jajahannya dulu seperti di Indonesia, Malaya, Vietnam dan Birma. Di Tiongkok sedang berlangsung perang pembebasan. Di Korea dilakukan perang melawan agresi imperialis Amerika. Perjuangan bersenjata mewarnai cakrawala politik negeri-negeri tersebut. Di Eropa dan Amerika, para pemuda dan mahasiswa yang baru saja lepas dari Perang Dunia II menganggap perjuangan bersenjata melawan kolonialisme dan untuk pembebasan nasional dan demokrasi sebagai bagian tak terpisahkan dari perjuangan mereka untuk perdamaian dunia dan pembelaan hak-hak demokrasi.

Konferensi antara lain dihadiri oleh utusan-utusan dari Indonesia, Malaya, Vietnam, Korea, Tiongkok, Pakistan, Kashmir, India dan Filipina. Delegasi Indonesia datang langsung dari Indonesia, setelah berhasil menerobos blokade Belanda di darat dan laut. Delegasi dipimpin oleh Soepeno (ketika itu pemimpin redaksi majalah PESINDO "Revolusioner", dan kemudian menjabat Direktur "Antara", dan adalah organisator aktif dalam gerakan wartawan Asia-Afrika). Anggota-anggotanya adalah Otto Rondonuwu (anggota pengurus KRIS dan kemudian anggota parlemen), Amin (dari API yang mewakili pemuda Sumatra) dan saya sendiri. Terutama laporan dari utusan-utusan negeri-negeri yang sedang melakukan perjuangan bersenjata untuk pembebasan negerinya, termasuk dari Indonesia, yang menimbulkan kesan mendalam dan amat mempengaruhi keputusan-keputusan, pernyataan-pernyataan dan resolusi-resolusi Konferensi Pemuda dan Mahasiswa Asia Tenggara. Atas usul Delegasi Indonesia, Konferensi menerima suatu Resolusi yang mengutuk dan menolak Persetujuan Renville. Di dalam rapat umum penutupan Konferensi, delegasi Indonesia menyatakan bahwa Persetujuan Renville merupakan suatu "set-back", tidak hanya untuk perjuangan rakyat Indonesia, tetapi juga untuk perjuangan pembebasan rakyat-rakyat Asia Tenggara dalam keseluruhannya.

Konferensi Calcutta adalah akibat yang logis dari proses sejarah perjuangan rakyat-rakyat Asia untuk suatu kehidupan bahagia dan layak untuk manusia, melawan kekuatan-kekuatan imperialisme dan kolonialisme, di mana pemuda dan mahasiswa merupakan kekuatan penting dan pendorong. Adalah penindasan dan penghisapan oleh penjajahan -- dan bukan orang lain, bukan "Moskou" atau "Komunis" -- yang mendorong Konferensi Calcutta ke arah di mana imperialisme dan kolonialisme menjadi sasaran utama! Adalah perang-perang agresi kolonial yang telah menyediakan dasar yang kuat bagi suatu gerakan solidaritas Asia yang kuat melawan imperialisme dan kolonialisme. Karenanya, Konferensi Calcutta memasuki sejarah sebagai pertanda lahirnya gerakan solidaritas rakyat-rakyat Asia, Afrika dan Amerika Latin di kemudian hari. Demikian, sekelumit dari pengalaman saya pada masa Revolusi Agustus 1945. Inipun sebagian sangat kecil dari pengalaman kaya-raya jutaan rakyat Indonesia yang bergerak dan berjuang pada masa itu. Akhirnya kemerdekaan Indonesia telah diakui seluruh dunia dan Republik Indonesia menempati tempatnya di antara negeri-negeri lain di dunia.

Kembali saya kepada pertanyaan pada permulaan sambutan saya: Perlukah 50 Tahun Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia diperingati? Saya menjawab dengan mantap: Ya! Perlu!. Kita tidak boleh lupa pengorbanan yang begitu besar yang sudah diberikan oleh berbagai generasi pejuang demi mewujudkan cita-cita Proklamasi, yaitu suatu masyarakat Indonesia yang sungguh bebas, demokratik dan berkeadilan sosial. Kita masih jauh dari perwujudannya. Maka perjuangan itu masih berlanjut pada hari kini dan di masa depan. Pada hari ini harapan kita tak lain bahwa generasi muda yang kini berjuang untuk cita-cita itu mengambil semangat dan jiwa dari generasi kami yang pada Revolusi Agustus itu bergerak, dan agar mereka terus bekerja dengan cara mereka sendiri, di dalam kondisi nasional dan internasional yang sudah banyak berubah, dan akhirnya mencapai tujuannya!

Sumber:
SAS Newsletter,
No. 4, Desember 1996,
penerbitan Stichting Azie Studies (SAS), Amsterdam
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

Angket

Hasil konferensi apa yang anda inginkan....?
 

Pengunjung Situs

Saat ini ada 7 Jumlah tamu Yang online